Thursday, April 21, 2016

Nikah Dini dan Dinamika Demografi

Perjuangan Kartini untuk perempuan Indonesia adalah agar perempuan Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama dari kaum laki-laki dalam hal mengembangkan diri, terutama sekali Kartini sangat menentang perkawinan pada usia dini. Karena yang pasti, perkawinan usia dini ini akan merampas kesempatan anak-anak perempuan Indonesia mendapatkan pendidikan dan mengembangkan potensinya. Inilah catatan nikah dini dan dinamika demogafi.

Cita-cita dan harapan Kartini ini tentunya harus diaplikasikan oleh visi-visi pemerintah saat ini dalam pembangunan perempuan Indonesia. Visi pembangunan perempuan tersebut adalah menekankan pada pembangunan kesehatan reproduksi, kesempatan yang lebih luas dalam politik, peningkatan pencapaian pendidikan perempuan dan membuka seluas-luasnya dalam hal kesempatan kerja perempuan.

Karena bagaimanapun juga, data-data statistik dalam dinamika demografi perempuan Indonesia saat ini masih menunjukan keterbelakangan perempuan disebabkan kawin pada usia dini. Menurut data KUA dan Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Dukcapil) tahun 2014-2015, terjadi 340.000 perkawinan dengan mempelai wanita di bawah usia 18 tahun. Data ini diperkuat juga dari beberapa penelitian. Diantaranya penelitian yang dilakukan lembaga riset Rumah Kitab, menemukan satu dari lima perempuan Indonesia kawin di bawah umur. Dan dua pertiga dari perkawinan tersebut kandas dan bercerai.

Menjadi langkah yang positif kemudian, bahwa fenomena ini direspon oleh sejumlah organisasi masyarakat sipil dan inisiatif sejumlah kepala daerah untuk pendewasaan usia perkawinan. Dalam hal ini adalah peninjauan terhadap Undang-Undang nomor 1 tentang perkawinan tahun 1974 dimana dinyatakan bahwa usia minimum perempuan boleh menikah adalah 16 tahun. Di Provinsi Nusa Tenggara Barat misalnya Kepala Daerah menaikan usia perkawinan laki-laki dan perempuan minimum 21 tahun lewat surat edarannya.


Karena memang kenyataannya sampai saat ini, remaja Indonesia mempunyai fertilitas yang tinggi. Angka kelahiran pada perempuan Indonesia usia 15-19 tahun di Indonesia adalah yang tertinggi di Asia Tenggara. Hampir 10 persen dari perempuan usia 15-19 tahun di Indonesia sudan menjadi Ibu. Menjadi double complex memang apabila angka data perkawinan dini ini disebabkan oleh beberapa faktor; kultur daerah, pemaksaan orang tua (dijodohkan), atau karena tindakan kriminal berupa modus pemerkosaan. Maka perlu upaya lebih komprehensif dari pemerintah menyentuh beberapa aspek sosio kultural bagi pembangunan perempuan Indonesia.

No comments:

Post a Comment