Saturday, April 16, 2016

Bonus Demografi Versus Narkoba;Catatan Sosial ahmadbadrun

Tulisan Emil Salim, Kompas 15 April 2016; “Ancaman Narkoba, Rokok dan Alkohol”, memaparkan bahwa keuntungan bonus demografi *Indonesia dalam rentang tahun 2012-2040 akan medapat tantangannya yang berat berupa ancaman drugs adiktif dalam narkoba, rokok dan alcohol. Hal mana alih-alih generasi muda sebagai buah bonusdemografi justru terancam terjerat oleh drugs adiktif.

Menurut data kementerian kesehatan (tahun 2013) generasi muda kita mulai merokok pada usia 5-9 tahun dan mencapai puncaknya sebagai perokok pada kelompok usia 15-19 tahun, terdiri dari laki-laki 57,3 persen, perempuan 29,2 persen.

Generasi muda lebih mudah adiktif terhadap zat nikotin dalam rokok dibandingkan generasi tua. Lambat laun rokok menumbuhkan kecanduan pada jenis drugs berzat adiktif yang lebih keras sehingga rokok menjadi pintu gerbang bagi drugs lain, seperti kokain, mariyuana, dan narkoba. 90 persen pecandu kokain, dan narkotika terbukti adalah perokok usia dini.

Dengan masuknya zat adiktif nikotin rokok ke tubuh anak muda, menurut Sheraf Karam dari McGill university, terjadi kerusakan pada korteks otak tipis sang perokok sehingga menimbulkan kesulitan berfikir dan mengingat. Bahwa adaftasi otak terhadap nikotin pada remaja lebih cepat dibandingkan orang dewasa karena selaput otaknya belum tumbuh sempurna.

(*Berkat program Keluarga Berencana, menurunnya 50 persen rasio ketergantungan penduduk usia dibawah 15 tahun ditambah penduduk usia 65 tahun ke atas terhadap beban tanggungan usia produktif 15 – 65 tahun dalam rentang waktu 2012-2040)

No comments:

Post a Comment