Thursday, December 18, 2014

Aneh, Lucu dan Tak Logis (Mengawal Revisi Kurikulum 2013)

Salah satu yang menjadi tema sentral dalam kajian kurikulum 2013 (K-13) adalah integrasi kompetensi karakter dengan kompetensi mata pelajaran. Banyak pengamat menilai bahwa model integrasi dalam K-13 ini adalah bentuk pemaksaan antara dua hal yang berbeda dimana satu dengan yang lainnya sebenarnya tidak saling berhubungan. Doni Koesoema seorang pemerhati pendidikan, alumnus curriculum and instruction faculty, Boston College, AS menilai terjadinya inkonsistensi pemikiran dan pemaksaan sebuah ide dalam K-13. Maka banyak sekali kita temukan pernyataan-pernyataan yang terkesan aneh, lucu dan tak logis pada banyak Kompetensi Dasar (KD) dalam setiap mata pelajaran. Beberapa contoh misalnya, dalam salah satu butir KD matematika berbunyi: “menunjukan perilaku patuh, tertib, dan mengikuti aturan dalam melakukan penjumlahan dan pengurangan sesuai secara efektif dengan memperhatikan nilai tempat ratusan, puluhan, dan satuan”.

Pada mata pelajaran matematika kelas X terdapat definisi kompetensi inti dan kompetensi dasar yang sama, berbunyi: “menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. Ini pelajaran agama atau matematika? Dalam hal ini lebih jauh Doni Koesoema menilai telah terjadi spiritualisasi dalam proses pembelajaran, sebuah pendekatan yang sangat absurd dan sangatlah meredusir kekayaan, hakikat dan proses belajar itu sendiri. 

Hal yang lebih lucu lagi akan kita dapatkan pada mata pelajaran IPA tingkat SMA, ada materi yang berbunyi “serah terima elektron berdasarkan prinsip gotong royong” atau pada pelajaran matematika kita temukan kalimat “aljabar berdasarkan prinsip kejujuran”. Serampangan dan ngawur, mungkin itulah kata yang juga tepat untuk mengekspresikan kesan kita setelah membaca model integrasi seperti ini. Maka tidaklah mengherankan apabila psikolog pendidikan karakter Ifah Misbach mengemukakan bahwa sistem penilaian dalam K-13 yang menghubungkan karakter dengan mata pelajaran tidak dibuat berdasarkan penelitian ilmiah. 

Maka gagasan kompetensi inti yang menurut M. Nuh (mantan Mendikbud) berperan sebagai pengikat kompetensi-kompetensi yang dihasilkan dari mata pelajaran-mata pelajaran- integrator horizontal antar mata pelajaran-sangatlah mentah dan absurd. Dan ketika kompetensi inti yang menjadi pilar utama dalam bangunan kurikulum 2013 begitu rapuhnya dalam sistem berfikir, maka masihkah relevan gagasan bahwa kurikulum 2013 harus direvisi? Tidakkah seharusnya K-13 dengan segala konsep, instrumen dan prangkat tekhnisnya kita kubur saja dalam-dalam karena telah menjadi ‘produk gagal’ pemerintah dan telah banyak meninggalkan traumatik dalam dunia pendidikan kita. Dan lebih dari itu, K-13 telah mengacaukan kejujuran dalam berfikir sebagai karakter dasar manusia.

No comments:

Post a Comment