Monday, March 12, 2012

Widjojo Nitisastro; Sang Arsitek Ekonomi

Widjojo Nitisastro adalah seorang arsitek ekonomi era Orde Baru yang bekontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi tinggi Indonesia yang nyaris bangkrut pada awal 1996. Indonesia berhasil bangkit membalik keadaan dari kemerosotan ekonomi yang tajam, hiperinflasi yang mencapai 650% sebelum akhirnya Orde baru hancur akibat salah urus Negara.
Pemikiran politik-ekonominya adalah eklektik; memilah dan meramu proses kimia antara peranan Negara (kendali politik) dan pasar. Pasar harus dikendalikan politik Negara yang mencegah dan mengawasi keserakahan dan kegagalan pasar. Syaratnya, kepemimpinan harus bersih atas sistem perimbangan kekuasaan yang mencegah dua ekstrim kegagalan pasar atau kegagalan Negara (Christianto Wibisono, 2012).

Dalam terminologi Orde Baru, gagasan Widjojo ini terangkum dari apa yang dinamakan dengan Trilogi Pembangunan ; stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan. Ada ekses memang, yaitu praksis pemerintahan represif yang berbentuk tersendatnya demokratisasi politik. Hal ini disebabkan Karena komando orba (Preisiden RI I, Soeharto) selanjutnya berjalan tidak pada proporsinya.

Inilah yang menjadi inti gagasan Widjojo bahwa simbiosisme mutualisme ekonomi dan politik sebagai keniscayaan. Pembangunan ekonomi meniscayakan pembangunan entitas-entitas politik, termasuk di dalamnya keamanan, sosial, budaya, dan penegakan hukum, dengan pembangunan ekonomi tidak saling mengeklusifkan, tetapi saling mengandaikan (tajuk kompas, 10/3/2012) 

‘Tribute’ dari para kolega dan Ekonom
Emil Salim : Widjojo selalu mengambil posisi diam, selalu berada di belakang panggung, tidak mau populer di bawah lampu sorot dan tepuk tangan. Ada 3 ciri pokok Widjojo :
1.    Seorang intelektual yang bertindak sesuai hati nurani
2.    Seorang pekerja keras
3.    Sikap berjaung tanpa pamrih

Boediono (Wapres): Beliau adalah sosok sekaliber Mohamad Hatta dan Soemitro Djojohadikusumo. Mereka adalah men of letters sekaligus men of affairs. Mereka memberikan bentuk dan warna terhadap perkembangan pemikiran ilmu ekonomi di Indonesia.

Sri Mulyani: Beliau berjasa membangun perekonomian secara sistemik dan berkelanjutan lewat rencana pembangunan Lima Tahun pertama hingga ke-empat.

Faisal Basri: Widjojo merupakan peletak dasar-dasar perencanaan pembangunan nasional modern. Ia sadar sekali sejak awal bahwa pertumbuhan penduduk harus dikendalikan agar beban peningkatan produksi pangan dan kebutuhan pokok rakyat tidak terlalu berat.

Mirza Adityaswara (Ikatan sarjana ekonomi Indonesia): Salah satu pemikiran Widjojo yang perlu dipertahankan adalah pentingnya Indonesia menjaga disiplin stabilitas makro ekonomi, yaitu menjaga disiplin defisit APBN yang konservatif, serta pengelolaan neraca pembayaran dan utang yang hati-hati.

M Chatib basri: Kebijakan Widjojo adalah resep dari kombinasi tiga hal. Pertama, membangun sektor pertanian yang kemudian dilanjutkan dengan penciptaan lapangan kerja di sektor industri. Kedua, akses kepada penduduk miskin dalam bentuk pendidikan dan kesehatan yang dikenal dengan sekolah dasar instruksi presiden (inpres) dan inpres kesehatan. Ketiga, mengendalikan penduduk melalui program keluarga berencana.

Perjalanan Karier:
•    Ketua Bapennas (1967-1971)
•    Mentri Ekonomi dan Industri Kabinet Pembangunan II (1973-1978)
•    Penasehat Bapennas (1983)
•    Penasehat Ekonomi Presiden (sejak 1983 sampai 1999)

No comments:

Post a Comment