Friday, March 2, 2012

Digigit Semut Componotus Gigas

Digigit semut componotus gigas. Catatan harianku hari ini. Sebuah pengalaman kecil akan menjadi bermakna apabila kita dapat melihatnya dalam perspektif ilahiyah. Kehidupan adalah mozaik- yang setiap kepingan peristiwanya  begitu berharga untuk kita abaikan. Dan manakala berlalunya satu episode kehidupan, berganti dengan episode kehidupan yang baru, sejatinya setiap perubahan berjalan berkelindan dengan integritas diri yang semakin bertumbuh kembang.
Salah satu contoh adalah peritiwa yang teramat ringan yang dengan aneka macamnya sering kali meningkahi rutinitas keseharian kita. Namun tidaklah berlebihan apabila  saya mencoba melihatnya dalam perspektif yang lebih bernilai.

Tiba-tiba saja sejenis serangga ‘componotus gigas’ (jenis semut hitam besar) menyelinap dalam kaos kaki dan menggigit kakiku. Nyeri yang lumayan memaksaku berhenti melangkah sejenak untuk menemukan semut itu hidup atau mati.

Peristiwa kecil ini sebenarnya biasa dan umum terjadi dan dengan beragam persfektif,  sering kali juga kita mencoba melihatnya lebih dalam. Khusus untuk kejadian ini, sengaja aku catat dalam diary-ku untuk mewakili beragam kejadian sejenis yang pernah terjadi dan sebagai penegasan sikap dan pemikiranku dalam membaca segenap realita kehidupan.

Segenap peristiwa tersebut tentunya menjadi media untuk berlatih meluaskan perspektif, menangkap makna tersembunyi untuk  dijadikan pelajaran. Makhluk kecil itu adalah ‘utusan Tuhan’ yang hendak menegaskan sebuh pelajaran. Pelajaran tentang hadirnya Tuhan disetiap denyut nadi kehidupan. Kebersamaan Tuhan dalam segala aktifitas sering kita remehkan. Dari kita bangun tidur, melaksanakaan rutinitas keseharian;makan-minum, berpakaian, naik kendaraan, pergi ke pasar, hingga santai melihat pemandangan, Tuhan hadir menyertai kita namun kadang bahkan sering kali Tuhan alpa dalam pikiran kita.

Pernahkah kita berpikir sesaat, segelas air yang akan kita teguk, tanpa kita sadari bercampur dengan racun yang membahayakan. Mungkinkah terpikir oleh kita, diluar pengetahuan kita baju yang akan kita pakai terselip jarum yang akan menusuk menyakitkan. Baru semut yang menyelinap dalam kaos kakiku, bagaimana seandainya kalajengking (naudzubillah). Mengapa kita tidak mengawali segala sesuatunya dengan BISMILAH (berdoa)?. Hendaknya kita senantiasa melibatkan Tuhan dalam sekecil apapun niat dan perbuatan, agar tidaklah segala akibat berbuntut sial.

Dengan bismillah berarti kita menjembatani keterbatasan kita dengan Dzat yang tak terbatas kuasanya. Mengawali segala sesuatu dengan menyebut nama Tuhan, berarti kesiapan kita sejak dini untuk dapat menerima segala kenyataan. Berdoa adalah senjatanya orang beriman untuk mengantisipasi terhadap berbagai kemungkinan. Berdoa adalah tak putus harapan dan pasrah terhadap segala keputusan Tuhan setelah ikhlas dalam ihtiar. Berdoa adalah bersyukur kepada Tuhan. Hanya dengan menyebut ‘dengan NamaMu ya Allah’  segala sesuatunya akan kita mulai, berjalan menurut kehendak Tuhan dan akan kembali kepadaNya dengan ridhaNya.

No comments:

Post a Comment