Tuesday, February 14, 2017

AHOK DALAM PUSARAN FITNAH DAN KEBENCIAN

Ditengah dunia medsos yang penuh dengan ujaran kebencian, Ditengah alam pikir yang penuh dengan klaim kebenaran tunggal, ini adalah curahan hati, ini adalah pelampiasan pikiran yang selama ini terbelenggu oleh kekhawatiran, ketakutan di bully khalayak dan kawan. Soal keberpihakan, itu saja. Keberpihakan pada seorang Basuki Cahaya Purnama Alias Ahok. Bukan keberpihakan politik - berharap Ia menang pilkada dan kembali menjadi gubernur. Bukan! Meskipun memang hati kecil saya juga tidak bisa membantah akan apresiasi positif  akan prestasi dan kinerja Ahok selama menjabat Gubernur. Adalah ia (Ahok) seorang Gubernur yang paling beres membersihkan birokrasi dari korupsi. Ia (ahok) seorang gubernur yang paling gencar ‘menggusur’ segala hambatan-hambatan birokrasi dan tata ruang. Ia (ahok) seorang gubernur yang paling bernyali menghadang mafia kejahatan dan kemaksiatan. Temperamen, kasar dan sering salah ucap itu memang menjadi kelemahannya yang diakui dunia. Namun bisa jadi itulah juga yang menjadi kelebihannya untuk mengatasi se-level kota Jakarta yang juga keras dan syarat masalah sosial.

Saturday, April 30, 2016

Menimbang Sisi Positif dan Negatif Ahok



Menimbang Sisi Positif dan Negatif Ahok. Gubernur DKI Jakarta Basuki cahaya Purnama atau yang lebih dikenal Ahok adalah tokoh yang paling kontroversial saat ini. Gaya memimpin yang meledak-ledak, bicara ceplas-ceplos, keberaniannya menantang siapa saja, banyak yang mengesankan dia sebagai pemimpin yang arogan, kasar dan bringas. Meskipun memang banyak juga yang lebih melihat pada sisi positifnya. Cendekiawan Syafii Maarif menilai Ahok lebih banyak positifnya ketimbang negatifnya. Negatifnya terletak pada buruknya etika gaya memimpin dan cara berbicara. Namun positifnya adalah dia adalah pemimpin petarung, punya nyali, berani membongkar segala skandal dan praktek mapia diantaranya kasus dana siluman pada APBD DKI yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Lebih jauh Mantan ketua PP Muhammadiyah itu mengatakan bahwa Negara memang membutuhkan pemimpin seperti ahok.

Saturday, April 23, 2016

Nuansa Konflik Kepentingan DPR

Nuansa konflik kepentingan DPR kini. Catatan ahmadbadrun kini akan mengulas perilaku anggota DPR saat ini. Terlihat dengan gamblang bahwa sejumlah draft undang-undang yang pernah dan sedang diusulkan syarat muatan konflik kepentingan. Kepentingan yang tentunya bukan untuk kepentingan rakyat melainkan kepentingan segelintir orang, kepentingan para elit parpol. Terlihat dari produk pemikiran yang dihasilkan, tidak konsisten, reaktif dan tendensius terhadap lawan politik.

Thursday, April 21, 2016

Nikah Dini dan Dinamika Demografi

Perjuangan Kartini untuk perempuan Indonesia adalah agar perempuan Indonesia mendapatkan kesempatan yang sama dari kaum laki-laki dalam hal mengembangkan diri, terutama sekali Kartini sangat menentang perkawinan pada usia dini. Karena yang pasti, perkawinan usia dini ini akan merampas kesempatan anak-anak perempuan Indonesia mendapatkan pendidikan dan mengembangkan potensinya. Inilah catatan nikah dini dan dinamika demogafi.

Saturday, April 16, 2016

Bonus Demografi Versus Narkoba;Catatan Sosial ahmadbadrun

Tulisan Emil Salim, Kompas 15 April 2016; “Ancaman Narkoba, Rokok dan Alkohol”, memaparkan bahwa keuntungan bonus demografi *Indonesia dalam rentang tahun 2012-2040 akan medapat tantangannya yang berat berupa ancaman drugs adiktif dalam narkoba, rokok dan alcohol. Hal mana alih-alih generasi muda sebagai buah bonusdemografi justru terancam terjerat oleh drugs adiktif.

Monday, April 11, 2016

Catatan Politik AhmadBadrun; Trend Marah Pemimpin Daerah

Entah kapan dan siapa yang memulai, 'marah' menjadi trend prilaku politik sejumlah pemimpin daerah; Walikota atau Gubernur saat ini. Sudah sedemikian parahkah prilaku buruk masyarakat kita atau akutnya penyakit bangsa saat ini hingga memang segala sesuatunya harus dituntaskan dengan marah-marah. Blusukan ala jokowian yang kerap dilakukan oleh para pemimpin daerah saat ini memang selalu berbuah respon terhadap masalah yang ditemui dilapangan. Dan respon itu terekspresikan dengan memarahi warga atau bawahan pejabat setempat yang dinilai ‘bermasalah’.

Sunday, April 10, 2016

Catatan AhmadBadrun tentang Pilkada DKI


Tulisan Firdaus cahyadi pada harian Kompas, 1 April 2016 “Pilkada DKI dan Politik Ekologi” sejatinya menambah kesadaran kita bahwa masih banyak diantara kita termasuk para elit mempersoalkan suku, etnis dan agama dalam konteks suksesi kepemimpinan daerah maupun nasional. Hal mana justru mereduksi prinsip-prinsip demokrasi dalam ranah Negara bangsa yang berbhineka. Setiap suku, etnis dan agama dilindungi oleh Undang-Undang dan mendapat hak yang sama dalam berdemokrasi. Maka tidaklah relevan, mengaitkan isu yang rasis tersebut dalam konteks pilkada pada sejumlah daerah yang menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai landasan dalam berdemokrasi.